Rahmatan Lil 'alamiiin

PERAN INSULIN DALAM PENYAKIT DIABETES
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Diabetes mellitus atau lebih dikenal dengan sebutan “penyakit kencing manis” di masyarakat merupakan salah satu penyakit “abadi” yang terus bermunculan penderitanya dalam kehidupan sehari-hari. Penyakit ini memberikan dampak yang luas bagi pasiennya, tidak hanya karena mengganggu kesehatan semata akibat berbagai komplikasi yang ditimbulkan, namun juga mempengaruhi kehidupan sosial. Faktanya, prevalensi diabetes mellitus secara global terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995, prevalensi diabetes mellitus di dunia mencapai 4,0% dan diperkirakan akan meningkat menjadi 5,4% pada tahun 2025. Sedangkan di negara berkembang (termasuk Indonesia), penderita diabetes mellitus pada tahun 1995 telah mencapai 84 juta pasien dan diprediksi akan melonjak hingga 228 juta pasien pada tahun 2025 nanti
Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin yang paling umum ditemukan. Penyakit ini ditandai oleh naiknya kadar gula darah (hiperglikemia) dan tingginya kadar gula dalam urin (glikosuria). Diabetes melitus berasal dari bahasa yunani, diabetes artinya mengalir terus atau bocor. Sedangkan kata melitus dari bahasa latin (Mellitus) yang artinya madu dan manis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan bentuk diabetes mellitus berdasarkan perawatan dan simtoma yang terdiri dari diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional dan menurut tahap klinis tanpa pertimbangan patogenesis, dibuat menjadi Insulin requiring for survival diabetes, Insulin requiring for control diabetes serta Not insulin requiring diabetes.
Insulin adalah sebuah hormon polipeptida yang mengatur metabolisme karbohidrat. Selain merupakan “efektor” utama dalam homeostasis karbohidrat, hormon ini juga ambil bagian dalam metabolisme lemak (trigliserida) dan protein, hormon ini memiliki properti anabolik. Hormon ini juga memengaruhi jaringan tubuh lainnya. Insulin menyebabkan sel (biologi) pada otot dan adiposit menyerap glukosa dari sirkulasi darah melalui transporter glukosa dan menyimpannya sebagai glikogen di dalam hati dan otot sebagai sumber energi. Kadar insulin yang rendah akan mengurangi penyerapan glukosa dan tubuh akan mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi. Insulin digunakan dalam pengobatan beberapa jenis diabetes mellitus. Pasien dengan diabetes mellitus tipe 1 bergantung pada insulin eksogen (disuntikkan ke bawah kulit/subkutan) untuk keselamatannya karena kekurangan absolut hormon tersebut; pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 memiliki tingkat produksi insulin rendah atau kebal insulin, dan kadang kala membutuhkan pengaturan insulin bila pengobatan lain tidak cukup untuk mengatur kadar glukosa darah.
Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui gejala-gejala, fungsi dan peranan insulin dalam penyakit diabetes mellitus.

PEMBAHASAN

Gejala-gejala diabetes
Perkembangan penyakit diabetes melitus berjalan lambat sekali. Gejala diabetes seperti ketoasidosis baru timbul jika penderita mengalami penyakit yang agak berat. Selain bersifat hereditas, obesitas juga sering merupakan etiologi penyakit diabetes. Pada penderita penyakit diabetes, metabolisme hidrat arang terganggu sebagai akibat terganggunya produksi hormon insulin oleh pankreas. Defisiensi insulin menyebabkan tidak semua glukosa dapat diubah menjadi glikogen. Tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) akan mendorong pembuangan kelebihan glukosa keluar tubuh melalui urine. Dengan sedikitnya glukosa yang dapat diubah menjadi glikogen, maka akan memenuhi kebutuhan energi otot, akan terjadi proses pengubahan glikogen hati menjadi glukosa melalui jalur glukoneogenesis. Menurut Budiyanto (2002) tinggiinya kadar gula darah berasal dari dua sumber yaitu:
1. Menurunnya kemampuan tubuh mengubah glukosa menjadi glikogen
2. Terjadinya proses glukoneogenesis dalam hati menyebabkan terbentuknya glukosa dan masuk dalam peredaran darah.
Hilangnya sebagian besar glukosa karena tidak dapat diambil tubuh dan terbuang melalui urine membawa akibat terambilnya lemak tubuh (lipolisis) dan protein (proteolisis) untuk dijadikan sumber energi. Terbentuknya zat keton yang terdiri dari asam asetoasetat dan asam betahidroksi butirat aseton akibat penggunaan asam laktat sebagai sumber energi. Kurangnya insulin dalam tubuh menyebabkan kadar glukosa meningkat namun tidak dapat digunakan oleh sel sehingga mengakibatkan terbentuknya senyawa keton secara berlebih (Poedjiadi, 2007), dan akhirnya menyebabkan diabetes.
Pada umumnya gejala diabetes melitus bisa muncul tiba-tiba pada anak dan remaja. Namun pada orang tua (diatas 40 tahun) gejala dapat muncul tanpa disadari. Tanda gejala yang sering dialami penderita diabetes adalah rasa haus, banyak kencing, rasa lapar, lemas, berat badan turun, rasa gatal, mata kabur, kulit kering dan sebagainya (Budiyanto, 2002).
Tabel 1. Risiko Pemunculan Diabetes Berdasarkan Umur
Umur dalam tahun Resiko pemunculan
0-19 1%
20-39 1%
40-59 3%
60 + 10%

Sumber: Ranakusuma (1987)
Fungsi dan peranan insulin
Insulin merupakan hormon yang menurunkan kadar glukosa darah dan memacu sintesis glikogen, lemak dan protein dalam banyak sel (Montgomeri,1993). Insulin berfungsi sebagai penghambat atau penekan terbentuknya enzim-enzim glukoneogenik dan karboksilase piruvat. Selain itu insulin juga dapat mengendalikan proses metabolisme karbohidrat untuk menormalkan kadar glukosa dalam darah (Poedjiadi, 2007).

Gambar 1. Model struktur insulin (Merah: karbon; hijau: oksigen; biru: nitrogen; merah muda: sulfur. Pita biru/ungu merupakan kerangka [-N-C-C-]n dalam sekuens asam amino H-[-NH-CHR-CO-]n-OH protein tersebut, dengan R merupakan bagian yang menonjol dari kerangka tersebut pada setiap asam amino), (Anonim b, 2011).
Menurut Montgomeri (1993) tidak semua penderita diabetes melitus disebabkan oleh kekurangan insulin dalam darah, namun secara umum penyakit diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kurangnya insulin dalam darah. Insulin merupakan hormon yang mengendalikan gula darah. Tubuh menyerap mayoritas karohidrat sebagai glukosa (gula darah). Dengan meningkatnya gula darah setelah makan, pankreas melepaskan insulin yang membantu membawa gula darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai bahan bakar dalam proses metabolisme atau disimpan sebagai lemak apabila kelebihan. Orang-orang yang punya kelebihan berat badan atau mereka yang tidak berolahraga seringkali menderita resistensi insulin. Insulin menjaga keseimbangan glukosa dalam darah dan bertindak meningkatkan pengambilan glukosa oleh sel badan. Kegagalan badan untuk menghasilkan insulin, atau jumlah insulin yang tidak mencukupi akan menyebabkan glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel untuk proses metabolisme. Sehingga glukosa di dalam darah meningkat dan menyebabkan diabetes melitus.

Gambar 2. Produksi Insulin (Anonim, 2011c).

Pada kondisi normal, pankreas mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan jumlah insulin yang dihasilkan dengan intake karbohidrat, tetapi pada penderita diabetes mellitus fungsi pengaturan ini hilang sama sekali. Pengaturan fisiologis kadar glukosa darah sebagian besar tergantung dari : ekstraksi glukosa, sintesis glikogen dan glikogenesis dari metabolisme di dalam hati. Konsentrasi gula darah yang konstan perlu dipertahankan karena glukosa merupakan satu-satunya zat gizi yang dapat digunakan oleh otak, retina dan epitel germaninativum dalam jumlah cukup untuk menyuplai energi sesuai dengan yang dibutuhkannya. Konsentrasi glukosa dalam darah manusia secara normal berkisar antara 80 dan 100 mg/100 ml. Setelah makan makanan sumber karbohidrat, konsentrasi glukosa darah naik hingga 120-130 mg/100 ml, kemudian turun kembali secara normal (Poedjiadi, 2007). Setelah masuk ke dalam tubuh, zat gula akan diedarkan ke seluruh sel tubuh melalui aliran darah. Kelebihan zat gula karena kurangnya aktivitas akan disimpan oleh tubuh.
Pada penyakit diabetes melitus tipe 1(diabetes yang tergantung insulin) mengalami gangguan metabolisme hidrat arang sebagai akibat dari terganggunya produksi hormon insulin oleh pankreas sehingga glukosa hanya sedikit yang dapat diubah menjadi glikogen, maka untuk memenuhi kebutuhan energi otot akan terjadi proses pengubahan glikogen hati menjadi glukosa melalui jalur glukoneogenesis. Terjadinya proses glukoneogenesis dalam hati terbentuknya glukosa dan masuk kedalam peredaran darah (Budiyanto, 2002).

Gambar 3. Siklus gula darah pada Diabetes Tipe 1(Diabetes Mellitus Tergantung Insulin)
(Anonim, 2011d).

Insulin dihasilkan oleh kelenjar pankreas pada tubuh kita, hormon insulin yang diproduksi oleh tubuh kita dikenal juga sebagai sebutan insulin endogen. Namun, ketika kalenjar pankreas mengalami gangguan sekresi guna memproduksi hormon insulin, disaat inilah tubuh membutuhkan hormon insulin dari luar tubuh, dapat berupa obat buatan manusia atau dikenal juga sebagai sebutan insulin eksogen. Semua diabetesein diabetes tipe 1 memerlukan insulin eksogen karena produksi insulin oleh sel beta pada kalenjar pankreas tidak ada ataupun hampir tidak ada. Pemberian insulin kepada penderita diabetes hanya bisa dilakukan dengan cara suntikan, jika diberikan melalui oral insulin akan rusak didalam lambung. Setelah disuntikan, insulin akan diserap kedalam aliran darah dan dibawa ke seluruh tubuh. Disini insulin akan bekerja menormalkan kadar gula darah (blood glucose) dan merubah glucose menjadi energi. Terapi insulin merupakan salah satu pilihan yang tepat bagi para penderita diabetes, hasil penelitian UKPDS (United Kingdom Prospective Diabetes Study Groups) menunjukkan bahwa dengan terapi insulin secara teratur dan terkontrol dapat menurunkan kadar gula darah pasien diabetes secara bertahap, dan di Amerika jumlah pasien diabetes telah menurun dari 44,5% selama Tahun 1988-1994 menjadi 35,8% pada 1999-2000 (Brunton et all., 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011a. Diabetes_mellitus. http://id.wikipedia.org/wiki/Diabetes_mellitus. (Diakses pada tanggal 26 Desember 2011 pukul 08:00).

Anonim, 2011b. Insulin. http://id.wikipedia.org/wiki/Insulin. (Diakses pada tanggal 26 Desember 2011 pukul 08:00).

Anonim, 2011c. lepas-dari-jeratan-si-manis. http://goldgamat.wordpress.com/tag/lepas-dari-jeratan-si-manis/(Diakses pada tanggal 26 Desember 2011 pukul 13:45).

Anonim, 2011d. Diabetes Tipe I dan II. http://mahkotadewa.com/blog/2009/07/diabetes-tipe-i-ii/(Diakses pada tanggal 26 Desember 2011 pukul 13:57).

Brunton S, Blaine C, Martha F, Daniel L, Robert R, Richard R. The role of insulin. The Journal of Family Practice. May; .2005; 445-452.

Budiyanto, A.K. 2002. Gizi dan Kesehatan. Penerbit Bayu Media dan UMM Press. Malang.
Gilvery, Mc. 1996. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional. Edisi ketiga. Airlangga University Press. Surabaya.
Poedjiadi, A. 2007. Dasar-dasar Biokimia. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta
Ranakusuma, A. B. 1987. Diabetes Melitus Tipe Sirosis Hepatitis. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: