Rahmatan Lil 'alamiiin

Antikanker

Abstrak: Rumput laut diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki manfaat dibidang farmasi, medis, indusri, pertanian dan makanan. Turbinaria conoides merupakan salah satu jenis rumput laut coklat yang memiliki kandungan bioaktif seperti fukosterol, fukosantin dan fukoidan. Senyawa bioaktif rumput laut coklat Turbinaria conoides berpotensi sebagai anti kanker. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa senyawa bioaktif rumput laut secara efektif mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Ekstraksi senyawa bioaktif rumput laut coklat dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut aseton. Analisis kandungan senyawa bioaktif Turbinaria conoides menggunakan HPLC dengan detektor photo dioda array dan uji farmakologi menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST) kemudiandilanjutkan dengan uji terhadap cell line.

Keyword: Antikanker, senyawa bioaktif, Turbinaria conoides,

Pendahuluan

Kanker merupakan penyakit tidak menular yang terjadi akibat kondisi fisik yang tidak normal dan pola hidup yang tidak sehat. Kanker dapat menyerang berbagai jaringan di dalam organ tubuh (Mangan, 2003),sehingga kebanyakan kanker menyebabkan kematian. Fakta mengatakan bahwa 1 di antara 10 kematian di dunia disebabkan oleh kanker, dimana setiap tahunnya diperkirakan 4,3 juta penduduk meninggal karena kanker dan diperkirakan pula ditemukan 5,8 juta penderita kanker yang baru setiap tahunnya(Sarjadi, 1992).

Dari data statistik kesehatan Amerika Serikat, sebanyak1.638.910kasus kanker baru dan577.190kematian akibat kankerdiperkirakanterjadi diAmerika Serikatpada tahun 2012, kasus-kasus ini disebabkan oleh empat jenis kanker utama yang kebanyakan terjadi yakni kanker paru-paru, kanker payudara, kanker prostat dan kandungan kemih(Siegel et.al., 2012). Di Indonesia, masalah penyakit kanker menunjukkan lonjakan yang luar biasa. Dalam jangka waktu 10 tahun, terlihat bahwa peringkat kanker sebagai penyebab kematian, naik dari peringkat

dua belas menjadi peringkat enam. Setiap tahun diperkirakan terdapat 190 ribu penderita baru dan seperlimanya akan meninggal akibat penyakit ini (Mediasehat, 2005).Penyakit kanker berada pada urutan ketiga penyebab terjadinya kematian setelah penyakit kardiovaskuler dan kecelakaan (Tambunan, 1995).

Besarnya angka kematian akibat kanker disebabkan karena sebagian besar penderita kanker terlambat mendapat pengobatan atau penanganan medis(Sarjadi, 1992). Selain itu, banyak obat kanker yang ada saat ini memiliki therapeutic yang rendah, dan dosis maksimum obat yang diberikan hanya memberikan efektivitas yang minimum. Tidak semua pasien atau jenis kanker menunjukkan respon yang baik terhadap obat yang diberikan. Bahkan, banyak obat kanker yang menimbulkan efek samping dan efek resisten terhadap pasien(William & Anderson, 2006 dalam Fajarningsih, dkk, 2008). Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan suatu penelitian agar mendapatkan obat baru yang lebih potensial sebagai antikanker.

Rumput laut secara tradisional telah lama digunakan sebagai bahan makanan dan obat-obatan, karena kaya akan mineral, elemen makro dan elemen mikro lainnya. Beberapa jenis rumput laut mengandung metabolit sekunder seperti steroid, alkaloid, phenol dan vitamin. Kandungan lainnya yaitu mannitol, pigmen beta karoten, xanthin, dan picoxanthin serta polisakarida berupa alginat, laminaran dan fukoidan(Rachmaniar, 1999). Di Jepang rumput laut merupakan menu sehari-hari, sehingga orang Jepang jarang sekali terkena penyakit kanker dibandingkan dengan orang Jepang yang telah bermigrasi ke Amerika dimana rumput laut tidak lagi menjadi menu harian mereka (Arabei, 2000).

Senyawa bahan alam dari mikroalga telah terbukti menjadi salah satu sumber senyawa bioaktif baru, diantaranya sebagai antimikroba, antivirus dan antitumor (Saftari, 1996 dalam Fajarningsih, dkk, 2008). Hasil penelitian Deslandes et al.(2000) melaporkan bahwa adanya efek antikanker dari ekstrak hidroetanol makroalga Turbinaria ornata. Sheu et al., (1999) dalam Fajarningsih, dkk, (2008) dan Kim et al., (2002) berhasil mengekstrak senyawa fukosterol dari makroalga Turbinaria conoides dengan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker dalam jumlah yang cukup tinggi(Sadish et al., 2009). Selain fukosterol, senyawa alami lain yang terkandung dalam makroalga Turbiniaria conoides yang digunakan sebagai antikanker adalah fukosantin dan fukoidan(Limantara dan Heriyanto, 2011 & Kelman et al., 2012). Rumput laut jenis Turbinaria conoides sangat banyak ditemukan di perairan Indonesia. Hal ini menjadi suatu potensi yang sangat menarik untuk diteliti komponen bioaktivitasnya sebagai antikanker.

Kanker

            Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan di sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta saraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya, sel kanker akan membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi penumpukan sel baru. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya (Mangan, 2009). Penyakit kanker dapat menyerang semua bagian organ tubuh. Baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Akan tetapi, lebih sering menyerang orang yang berusia 40 tahun (Uripi, 2002).

Menurut Roger (2000) sel kanker tumbuh dengan cepat,sehingga sel kanker pada umumnya cepat menjadi besar. Disamping itu, sel kanker dapat menyebar (metastasis) ke bagianalat tubuh lainnya yang jauh dari tempat asalnya melalui pembuluhdarah dan pembuluh getah bening sehingga tumbuh kanker barudi tempat lain. Penyeberan sel kanker ke jaringan sehat pada alattubuh lainnya dapat merusak alat tubuh tersebut sehingga fungsialat tersebut menjadi terganggu.Awalnya kanker tidak menimbulkan keluhan karena hanyamelibatkan beberapa sel. Bila sel kanker bertambah, makakeadaan bergantung kepada orang yang terkena. Misalnya, padausus berongga besar, tumor harus mencapai ukuran besarsebelum memicu keluhan. Pada tarafstadium lanjut sel kanker menyebar sampai ke organ vital sepertiotak atau paru lalu mengambil nutrisi yang dibutuhkan oleh organ tersebut, akibatnya organ itu rusak dan mati.

Penyebab Kanker

Ada empat faktor utama penyebab kanker seperti lingkungan, makanan, biologis, dan psikologis(Lumongga, 2009).Keempat faktor penyebab kanker tersebut, yaitu:

  1. Lingkungan

Faktor lingkungan penyebab kanker terdiri dari bahan kimia, sinar ultra violet, dan rokok.

a. Bahan kimia

Zat yang terdapat pada asap rokok yang dapat menyebabkan kanker paru pada perokok aktif dan perokok pasif (orang yang bukan perokok atau tidak sengaja menghirup asap rokok orang lain) dalam jangka waktu yang lama.

b. Penyinaran yang berlebihan

Sinar ultra violet yang berasal dari matahari dapat menimbulkan kanker kulit. Sinar radio aktif sinar X yang berlebihan atau radiasi dapat menimbulkan kanker kulit dan leukimia.

c. Merokok

Penelitian tentang rokok mengatakan bahwa lebih dari 63 jenis bahan yang dikandung asap rokok itu bersifat karsinogenesis. Secara epidemiologik juga terlihat kaitan kuat antara kebiasaan merokok dengan insidens kanker paru, maka tidak dapat disangkal lagi menghindarkan asap rokok adalah kunci keberhasilan pencegahan yang dapat dilakukan. Keterkaitan rokok dengan kasus kanker paru diperkuat dengan data bahwa risiko seorang perempuan perokok pasif akan terkena kanker paru lebih tinggi daripada mereka yang tidak terpajan kepada asap rokok(PDPI, 2003).

  1. Makanan

Para ilmuwan mendapatkan bahwa makanan-makanan tertentu adalah sumber kanker. Makanan-makanan tersebut menjadisumber kanker oleh sebab adanya zat-zat kimia tertentu. Makanan yang dapat menyebabkan kanker adalah:

  1. Daging yang mengandung hormon sex buatan DES (Diethylstilbestrol).
  2. Bahan pemanis buatan seperti biang gula dan saccharin.
  3. Nitrosamines pada bahan-bahan pengawet buatan, dan bahan pewarna buatan, yang umumnya dipakai dalam produk daging, yang telah diproses dan juga banyak dalam produk makanan kaleng.
  4. Zat pewarna yang ada dalam makanan, minuman, kosmetik, maupun obat obatan.
  5. Zat radioaktif yang sekarang ini terdapat hampir di seluruh bulatan bumi sebagai akibat dari percobaan bom atom serta peledakan bom, yang masuk dalam tubuh manusia melalui makanan, khususnya susu.
  6. Kebanyakan makan garam.
  7. Makanan yang sudah menjadi tengik.
  8. Biologis

Faktor biologis penyebab terjadinya kanker adalah virus, hormon dan faktor keturunan.

a. Virus

Salah satu virus yang dapat menyebabkan kanker adalah virus HIV (human immunodefiency virus), dimana virus HIV (human immunodefiency virus) ini dapat merusak sistem kekebalan tubuh. Akibatnya wanita yang terinfeksi virus HIV (human immunodefiency virus) akan rentan terhadap infeksi HPV (human papillomavirus)

b. Hormon

Hormon adalah zat yang dihasilkan kelenjar tubuh yang fungsinya adalah mengatur kegiatan alat-alat tubuh dan selaput tertentu. Pada beberapa penelitian diketahui bahwa pemberian hormon tertentu secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya peningkatan beberapa jenis kanker seperti kanker payudara, rahim, indung telur dan prostat (kelenjar kelamin pria).

c. Keturunan

Sejumlah penelitian menemukan bahwa sekitar 5% dari kasus kanker diakibatkan oleh faktor keturunan. Faktor keturunan ini memang susah untuk dihindari. Tetapi sejauh apa peranan gen yang abnormal masih belum diketahui

  1. Psikologis

a. Kepribadian

Orang dengan tipe kepribadian tertutup termasuk tipe yang mudah terkena stres. Akibatnya mereka akan memiliki risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker dan jantung.

b. Stres

Salah satu sebab menurunnya kekebalan tubuh (immunitas) adalah adanya stres dan kondisi stres ini akan melemahkan respon imunitas. Menurunnya sistem imunitas ini mempermudah masuknya sel-sel kanker menyerang tubuh, karena kemampuan sel tersebut untuk mengenal dan melawan musuh tidak dapat berfungsi secara baik.

Gejala Kanker

Pada stadium dini, kanker biasanya belum menimbulkan keluhan atau rasa sakit. Biasanya penderita menyadari bahwa tubuhnya telah terserang kanker ketika sudah timbul rasa sakit, padahal saat ada keluhan tersebut kanker sudah memasuki stadium lebih lanjut. Pengenalan gejala kanker harus dilakukan sedini mungkin, meskipun tidak ada rasa gangguan atau rasa sakit. Dengan mengetahui serangan kanker yang masih dalam stadium dini angka kesembuhan semakin besar(Sarjadi, 1992).Menurut Mangan (2009) pengenalan gejala kanker dapat dilakukan sendiri dengan cara WASPADA yang merupakan kependekan dari istilah-istilah sebagai berikut:

W = Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau terganggu.

A = Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.

S = Suara serak dan batuk yang tidak kunjung sembuh.

P = Payudara atau ditempat lain ada benjolan.

A = Andeng-andeng atau tahi lalat berubah sifat, menjadi semakin besar dan

gatal.

D = Darah atau lendir yang tidak normal keluar dari lubang-lubang tubuh         

Pencegahan Kanker

Kanker dapat dikatakan sebagai penyakit gaya hidup karena dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat dan menjauhi faktor risiko terserang kanker. Berikut beberapa cara pencegahan kanker secara dini menurut Mangan(2009):

  1. Hindari makanan tinggi lemak, makanan instan yang mengandung bahan pewarna dan bahan pengawet, serta makanlah makanan dengan gizi seimbang.
  2. Hindari hubungan seksual dengan pasangan yang bukan suami atau istri sendiri, atau berganti-ganti pasangan.
  3. Hindari asap rokok atau berhentilah merokok.
  4. Hindari stress dan konflik yang berkepanjangan.
  5. Hindari terkena sinar matahari yang berlebihan.
  6. Periksakan kesehatan secara berkala.
  7. Minumlah air murni yang sudah melaui proses penyaringan misalnya proses penyaringan reverse osmosis (RO).
  8. Hindari terapi hormon sintesis.
  9. Hindari penggunaan hormone sintesis saat KB dalam jangka waktu lama.
  10. Rutin mengonsumsi vitamin A, C, E, B kompleks, dan suplemen yang bersifat antioksidan, peningkat daya tahan tubuh, dan pembuang racun

Pengobata

Pemilihan pengobatan kanker tergantung pada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, dan keadaan umum penderita. Beberapa pengobatan atau terapi untuk pengidap kanker dapat dilakukan seperti pembedahan, terapi radiasi, kemoterapi, dan imunoterapi(Crowin, 2007).

1. Pembedahan

Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat kuratif maupun paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung menghilangkan penyebabnya sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat dihilangkan. Sedangkan tindakan paliatif adalah tindakan yang berarti memperbaiki keadaan penderita.

2. Terapi penyinaran (radioterapi)

Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya.

3. Kemoterapi

Apabila kanker telah menyebar ke luar panggul, maka dianjurkan menjalani kemoterapi. Kemoterapi menggunakan obat obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat anti-kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut.

4. Terapi biologis

Terapi biologi berguna untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis tersebut dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.

5. Terapi gen

Terapi gen dilakukan dengan beberapa cara :

  1. Mengganti gen yang rusak atau hilang.
  2. Menghentikan kerja gen yang bertanggung jawab terhadappembentukan sel kanker.
  3. Menambahkan gen yang membuat sel kanker lebih mudah dideteksi dan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh, kemoterapi, maupun radioterapi.
  4. Menghentikan kerja gen yang memicu pembuatan pembuluh darah baru di jaringan kanker sehingga sel-sel kankernya mati.

.Selain pengobatan secara medis, ada juga pengobatan secara herbal untuk mengobati penyakit kanker. Obat herbal adalah obat-obatan yang dibuat dari bahan tumbuhan, baik itu tumbuhan yang sudah dibudidayakan maupun tumbuhan liar. Obat herbal merupakan salah satu bagian dari obat tradisional. Dalam obat tradisional mencakup juga obat yang dibuat dari bahan hewan, mineral, atau gabungan dari bahan hewan, mineral, dan tumbuhan (Mangan, 2009).

Rumput Laut

Kurang lebih 70 persen wilayah Indonesia terdiri dari lautan yang kaya akan berbagai jenis sumber hayati. Salah satu diantaranya adalah rumput laut yang mempunyai nilai penting bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan kandungan pigmennya, rumput laut dapat dibedakan menjadi kelas alga merah (Rhodophyceae), alga coklat (Phaeophyceae), alga hijau (Chlorophyceae) dan alga biru-hijau (Cyanophyceae). Pada umumnya rumput laut mengandung air antara 12,95 – 27,50 %, protein 1,60 – 10,00 %, karbohidrat 32,25 – 63,20 %, lemak 3,5 – 11,00 %, serat kasar 3,00 – 11,40 % dan abu 11,50 – 23,70 % (Winarno, 1990). Selain karbohidrat, protein, lemak dan serat, rumput laut juga mengandung enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A, B, C, D, E dan K) dan makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan selenium serta mikro mineral seperti zat besi, magnesium dan natrium. Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10-20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat.

Rumput laut coklat tersusun atas zat warna atau pigmentasinya, bentuknya seperti tumbuhan tinggi dengan daun menggasing, melebar hingga distal akhir, membentuk batas helaian mahkota melalui barisan gigi dan menyerupai lonceng. Kelompok ini memiliki bentuk yang bervariasi, dan sebagian besar jenis-jenisnya berwarna cokelat atau pirang. Jenis ini mempunyai thallus (tidak ada bagian akar, batang dan daun), ukuran tulusnya mulai dari mikroskopik sampai makroskopik. Rumput laut ini juga mempunyai jaringan transportasi air dan makanan yang analog dengan transportasi pada tumbuhan darat, kebanyakan bersifat autotrof(Zaif, 2009).

Menurut Limantara dan Heriyanto (2010), warna thallus rumput laut cokelat berasal dari campuran pigmen golongan klorofil dan pigmen golongan karotenoid. Rumput laut coklat menghasilkan pigmen fotosintetik yaitu karitin, fukosantin, klorofil a dan c disamping alginat. Rumput laut ini hidup sebagai fitobentos dengan menancapkan atau meletakan akarnya pada substrat lumpur, karang, fragmen karang mati, kulit kerang, batu ataupun kayu. Ada pula yang melekat pada tanaman lain yang bersifat epifitik. Turbinaria sp umumnya ditemukan hampir di seluruh perairan Indonesia, dan saat ini telah dibudidayakan di beberapa daerah. Ada tiga jenis Turbinaria yang ditemukan di perairan Indonesia, yaitu Turbinaria ornata, Turbinaria conoides dan Turbinaria decurrens(Suara Merdeka, 2012).

Klasifikasi Turbinaria conoides (J.Agardh) :

Regnum : Plantae

Filum     : Thallophyta

Divisi     : Phaeophyta

Kelas     : Phaeophyceae

Suku      : Sargassaceae

Marga    : Tubinaria

Jenis       : Turbinaria conoides (J.agardh Kuetzing)

Bioaktivitas Rumput Laut Sebagai Antikanker

Rumput lautmenghasilkan beragam senyawa kimia yang berfungsi sebagai sistem untuk mempertahankan kelangsungan hidup merekadi lingkungan yang sangat kompetitif. Penelitian senyawa alami dari rumput laut menghasilkan isolasi lebih dari 15.000 senyawa baru, banyak yang telah terbukti memiliki sifat bioaktif.  Dari tiga pengelompokan alga secara tradisional dikenal sebagai Chlorophyta (ganggang hijau), Rhodophyta (ganggang merah), dan Phaeophyta (ganggang coklat) menghasilkan senyawa dengan berbagai bioaktivitas. Sehubungan dengan banyaknya senyawa alami yang terkandung dalam rumput laut yang dilaporkan secara biologis, rumput laut telah diusulkan sebagai salah satu sumber zat bioaktif  yang menjanjikan dan dapat dimanfaatkan dalam bidang farmasi(Kelman et al., 2012).

Rumput laut coklat mengandung komponen unik yang kuat berupa fukosterol, fukosantin dan fucoidan. Kandungan rumput laut umumnya adalah mineral esensial (besi, iodin, aluminum, mangan, kalsium,phosphor, sulfur, chlor, silikon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium, dan unsur-unsur lainnya), asam nukleat, asam amino, protein, mineral, tepung, gula dan vitamin A, D, C, E, K(Agam, 2010).

Fukosterol merupakan steroid utama yang terkandung dalam rumput laut coklat. Kandungan fukosterol sebanyak 83 hingga 98 persen dari jumlah total sterol rumput laut(Sadish et al., 2009). Senyawa fukosterol telah mampu diekstraksi dari rumput laut jenis Turbinaria conoides menggunakan kromatografi. Senyawa ini diperoleh dengan mengelusi ekstrak  dengans ikloheksana: etilasetat (20:1) diikuti dengan kristalisasi minyak mentahdari metanol.Sheu et al, (1999) dalam Fajarningsih dkk, (2008), mempublikasikan bahwa 4 dari 9 senyawa fukosterol yang diisolasi dari alga coklat Turbinaria conoides memiliki bioaktivitas terhadap beberapa sel lestari tumor. Senyawa tersebut antara lain 24-ethylcholesta-4,24(28)-dien3,6-dione dan 6β-hydroxy-24ethylcholesta-4,24(28)-dien-3-one yang secara signifikan memiliki efek sitotoksik terhadap sel lestari tumor. Sedangkan dari hasil penelitian Fajarningsih dkk, (2008), melaporkan bahwa ekstrak kasar etanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi metanol Turbinaria deccurens memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel tumor HeLa. Pengujian antitumor didasarkan pada dua model yang dikembangkan dalam pencarian senyawa antitumor dari bahan alam. Model pertama adalah mencari bahan alam yang memiliki toksisitas tinggi atau sangat toksik terhadap berbagai jenis sel dan model yang kedua adalah mencari senyawa bioaktiv yang dapat membunuh sel secara spesifik.

Pigmen penyusun pada rumput laut coklat berasal dari golongan klorofil dan turunannya, golongan karotenoid polar (ksantofil), serta golongan karotenoid non polar (karoten). Klorofil a, pigmen berwarna hijau kebiruan, merupakan pigmen utama dalam proses fotosintetik dari tumbuhan, termasuk didalamnya rumput laut coklat, sedangkan karotenoid hanya sebagai pigmen pelengkap. Fukosantin merupakan karotenoid utama yang terdapat dalam rumput laut coklat dan warna coklat pada rumput laut ini berasal dari fukosantin(Peng et al., 2011).

Fukosantin memiliki ikatan alenikyang khas dan dalam molekulnya terdapat 5,6-monoepoksida berperan terhadap kekhasan struktur fukosantin. Fukosantin memiliki berbagai macam pengaruh yang menguntungkan dalam kesehatan manusia, antara lain yaitu: anti obesitas, antoiksodan, antikanker, anti diabet dan anti photoaging(D’Orazio et al., 2012). Aktivitas anioksidan fukosantin memiliki efek yang sangat baik dalam penghambatan molekul sel kanker. Fukosantin mampu menghambat pertumbuhan sel kanker dengan merangsang penangkapan siklus sel dan meningkatkan celah antar sel junctional, senyawa ini dianggap efektif sebagai antikanker terutama kanker prostat, leukimia dan kanker usus besar. Dari hasil penelitian melaporkan bahwa senyawa fukosantin mampu menekan proliferasi sel kanker (CaCo-2, Hep G2 dan Neuro2a) yang dibudayakan dari sel kanker usus manusia dan tidak mengganggu mekanisme obat antikanker pada pasien yang menjalani kemotrafi(Takeshi and Takeshi, 2011). Selain itu juga dilaporkan bahwa fukosantin secara signifikan menghambat pembengkakan dan mengurangi kadar tumor necrosis yang diuji secara in vivo pada tikus(Yamamoto., 2011 dalam D’Orazio et al., 2012).

Serat makanan dalam rumput laut coklat dapat mengurangi resiko penyakit kanker yang disebabkan oleh sistem pencernaan yang tidak sempurna. Rumput laut coklat yang kaya akan serat larut air (seperti Kombu dan Wakame), ketika direndam dalam air akan mengeluarkan lendir kental yang terdiri dari alginat, fukoidan dan protein. Serat dalam bentuk lendir ini yang akan melapisi saluran pencernaan dan melindungi dinding dari peradangan dan zat yang berpotensi karsinogen. Alginat dan fucoidan yang berasal dari rumput laut coklat, setara dengan pektin yang berasal dari buah-buahan seperti apel. Namun, apel hanya berisi sekitar 12% serat larut sedangkan rumput laut coklat berisi sampai dengan 45% serat larut (WPI, 2010).

Beberapa penelitianmenunjukkan bahwa polisakarida dalam rumput laut bisa merusak sel-sel kanker. Peranan senyawa fukoidan untuk membasmi kanker telah terbukti dalam sebuah penelitian di Universitas Hashemite di Yordania, dimana senyawa fukoidan mampu membasmi kanker jenis Limfoma yang merupakan kanker dari sistem kekebalan tubuh dan diklasifikasikan ke dalam Hodgkin dan jenis non-Hodgkin(Kusmanto, 2011).  Fucoidan atau fucoidin adalah senyawa garam kalsium dari karbohidrat etersulfat. Dikemukakan bahwa molekul fukoidan secara umum mengandung kira-kira 38,3% sulfat, 56,7% L-fukosa dan 8,2% ion logam. Pada jenis rumput coklat Himanthalia terkandung 57% fukosa, 4% galaktosa, 15% xylosa, 3% asam uronat, sedangkan pada jenis Pelvetia canaliculata terkandung 35% fukosa, 3% glukosa, 22% galaktosa, 6% arabinosa. Secara umum rumput laut coklat mengandung 31-72% fukosa, 5-31% galaktosa, 3-29% xylosa.

Rumput laut juga merupakan multivitamin alami yang memiliki aktivitas antitumor secara konsisten(Kusmanto, 2011). Sementara itu Ale et al., (2011)melaporkan hasil penelitiannya, bahwa ekstrak fukoidan Sargassum sp dan F. vesicullosus mempunyai aktivitas yang sangat nyata dalam menghambat pertumbuhan sel kanker kulit dan paru-paru secara in vitro pada tikus percobaan. Dengan demikian, nutrisi yang optimal dalam rumput laut mampu memberikan fungsi imun terbaik, merevitalisasi tubuh, mendukung kesehatan jantung, memperbaiki pencernaan, menguatkan sistem saraf, dan menyeimbangkan hormon.

Ekstraksi Rumput Laut

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Ditjen POM, 2000). Metode ekstraksi terdiri dari ekstraksi secara panas dan ekstraksi secara dingin. Proses ekstraksi secara dingin dapat dilakukan untuk memisahkan suatu senyawa dalam rumput laut, metode yang digunakan adalah maserasi dengan stirer selama 24 jam (Zainuddin, 2006). Maserasi merupakan proses penyaringan dengan cara serbuk direndam dalam pelarut sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut. Lamanya waktu maserasi berbeda-beda tergantung pada sifat atau ciri campuran serbuk dan pelarut. Lamanya harus cukup supaya dapat memasuki semua rongga dari struktur serbuk dan melarutkan semua zat yang mudah larut. Lamanya maserasi bisa memerlukan waktu beberapa jam atau beberapa hari untuk ekstraksi yang optimum. Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur 15-20°C dalam waktu selama tiga hari sampai bahan-bahan terekstrak semua.

Pelarut yang digunakan adalah yang berbeda tingkat polaritasnya yang dimulai dari pelarut non-polar ke pelarut polar, ini dikarenakan index polaritas dari pelarut non-polar lebih kecil dibandingkan pelarut polar. Dalam ekstraksi rumput laut coklat pelarut yang umum digunakan adalah pelarut polar, karena efisiensi proses ekstraksi sangat ditentukan oleh struktur kimia dari setiap senyawa yang terdapat dalam sampel tersebut, beberapa pelarut organik polar yang dapat digunakan dalam ekstraksi senyawa dari rumput laut coklat antara lain: aseton, aseton-metanol, etanol dan metanol(Zaelani dan Purnomo, 2011). Karena penggunaan pelarut ini akan menghasilkan hasil ekstraksi yang baik(Limantara dan Heriyanto, 2011).

Analisa HPLC

Uji HPLC kualitatif dilakukan untuk mengetahui komposisi kandungan senyawa yang terkandung dalam ekstrak Turbinaria conoides. Untuk memastikan kemurnian dari isolat dilakukan analisis dengan menggunakan metode HPLC analitik dengan komposisi gradien (eluen) metanol-air ada kolom fase terbalik (reversed phase) dengan detektor photo dioda array untuk merunut keberadaan senyawa utama. Penggunaan HPLC telah banyak dilakukan untuk menentukan kandungan senyawa dalam rumput laut, Limantara dan Heryadi (2010), melaporkan bahwa penggunaan HPLC fase terbalik dengan detektor photo dioda array untuk menentukan kandungan senyawa fukosantin dalam rumput laut coklat dapat dilakukan dengan mudah. Sedangkan hasil penelitian Zaelani dan Purnomo (2011), melaporkan bahwa kandungan senyawa fukosantin dalam rumput laut coklat  terdeteksi pada panjang gelombang 450 nm menggunakan HPLC fase terbalik dengan detektor photo dioda array.

Uji farmakologi

Penelitian terhadap senyawa aktif dari bahan alam sangat digalakkan. Tetapi banyak bahan-bahan obat alami yang telah diisolasi, dikarakterisasi dan dipublikasikan tanpa dilanjutkan dengan uji aktivitas biologi. Aktivitas biologi tumbuhan dan hewan tersebut tidak diketahui hingga bertahun-tahun. Hal ini disebabkan karena karena pencarian untuk senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi sering menggunakan uji aktivitas dengan biaya yang mahal. Hambatan biaya ini mempengaruhi kegiatan farmakologis. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu uji aktivitas yang secara umum sederhana, mudah dan murah namun dapat dipercaya dan dapat mendeteksi adanya senyawa yang mempunyai aktivitas biologi secara luas yang terdapat pada ekstrak, fraksi dan isolat. Beberapa uji pendahuluan yang memenuhi syarat-syarat di atas antara lain: Metode Brine Shrimp Lethality Test (BST), Potato Disk, dan Uji terhadap Lemna minor L (Mclaughlin dan Rogers, 1998).

  1. Brine Shrimp Lethality Test

Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi. Oleh karena itu daya bunuh in vivo dari senyawa terhadap organisme hewan dapat digunakan untuk menapis ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan juga untuk memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan pemurnian.

Salah satu organisme yang sangat sesuai untuk hewan uji tersebut adalah brine shrimp (udang laut). Brine shrimp test sudah digunakan untuk berbagai sistem bioassay yaitu untuk menganalisa residu pestisida, mikotoksin, polutan pada air sungai. Dalam fraksinasi yang diarahkan dengan bioassay, metode brine shrimp telah digunakan untuk memonitor fraksi aktif mikotoksin dan antibiotik pada ekstrak. Artemia salina Leach adalah sejenis udang air asin. Telurnya merupakan makanan ikan tropis dan telur tersebut dapat dijumpai di toko-toko yang menjual ikan hias tropis dengan nama brine shrimp eggs. Telur ini dapat bertahan selama bertahun-tahun dalam keadaan kering. Jika dimasukkan dalam larutan air laut, telur-telur akan menetas dalam waktu 48 jam dan menghasilkan sejumlah nauplii. Nauplii Artemia salina Leach ini dapat dipakai sebagai alat yang baik untuk mendeteksi senyawa-senyawa yang memiliki aktivitas biologi (Mclaughlin dan Rogers, 1998).

  1. Metode Potato Disk (menghambat tumor crown gall)

Crown gall adalah penyakit tumor pada tumbuhan yang ditimbulkan oleh strain yang spesifik dari bakteri gram negatif Agrobacterium tumefaciens. Terdapat kesamaan antara mekanisme terjadinya tumor pada tumbuhan dan pada hewan, senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan tumor pada tumbuhan juga dapat berfungsi sebagai antitumor pada hewan. Uji ini merupakan uji pendahuluan yang sederhana untuk menemukan senyawa antikanker dari bahan alami. Penghambatan pertumbuhan crown gall tumor pada potato disk oleh ekstrak alami, menunjukkan bahwa ekstrak bahan alami tersebut aktif (Mclaughlin dan Rogers, 1998).

  1. Uji terhadap Lemna minor L.

Lemna minor L. adalah tumbuhan monokotil yang hidup di daerah perairan. Pada kondisi normal, kondisi ini secara langsung menghasilkan anak daun. Jika ekstrak bahan alami dapat menghambat pertumbuhan dari anak daun tumbuhan Lemna minor L., maka ekstrak bahan alami tersebut dapat berkhasiat sebagai antitumor (Mclaughlin dan Rogers, 1998).

  1. Uji Terhadap cell line

Bahan alami yang telah dinyatakan aktif pada uji pendahuluan, selanjutnya dilakukan uji pada tahap berikutnya yaitu uji cell line. Uji ini menggunakan sel-sel kanker secara in vitro, zat-zat antikanker diuji langsung terhadap sel kanker. Contoh-contoh cell line yang banyak digunakan dalam pengujian zat-zat antikanker antara lain L-1210 (leukimia pada tikus), S-256 (sarcoma pada manusia) (Mclaughlin dan Rogers, 1998).

Kesimpulan

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia, dapat terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak. Penyakit kanker dapat disebabkan oleh lingkungan, makanan, biologis, dan psikologis.Rumput laut dapat digunakan sebagai salah satu obat antikanker karena mengandung senyawa bioaktif seperti fukosterol, fukosantin dan fukoidan yang memiliki sifat antikanker.

Penggunaan rumput laut sebagai antikanker dapat menjadi pengganti obat yang selama ini kurang efektif, memiliki efek samping dan mahal. Senyawa bioaktif rumput laut Turbinaria conoides dapat diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut aseton, aseton-metanol, etanol dan metanol. Sedangkan pengujian kandungan senyawa bioaktif secara kualitataif dapat dilakukan dengan HPLC fase terbalik dengan detektor photo dioda array. Pengujian farmakologi senyawa bioaktif rumput laut Turbinaria conoides dapat dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST), Potato Disk, uji terhadap Lemna minor L dan uji terhadap cell line.

DAFTAR PUSTAKA

Ale, M.T., Maruyana H., Taumachi H., Mikkelsen J. D., and Meyer J. D., 2011c. Fucoidan from Sargassum sp. and Fucus vesiculosus reduces cell viability of lung carcinoma and melanoma cells in vitro and activates natural killer cells in mice in vivo. Int. J. Biol. Macromol. 49,331–336

Agam, R. 2010. Manfaat Rumput Laut sebagai Antioksidan dan Pencegah Kanker. http://agam.student.umm.ac.id/2010/08/11/30/. diakses tanggal 04 April 2012.

Arabei, I. Y. 2000. Vegetable from the sea. http://www. Alkalize for Health, net.Library.html. diakses tanggal 03 April 2012.

Corwin, Elizabeth. 2007. Buku saku Patofisiologi, Ed.3. EGC. Jakarta.

Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

D’Orazio N, Gemello E, Maria A. G, Massimo G, Cristiana F, and Riccioni G. 2012. Fucoxantin: A Treasure from the Sea. Marine Drugs Journal2012, 10, 604-616

Fajarningsih, N. D. Nursid, M. Wikanta, T. dan Marraskuranto E. Bioaktivitas Ekstrak Turbinaria decurrens Sebagai Antitumor (HeLa dan T47D) Serta Efeknya Terhadap Proliferasi Limposit. Jurnal Pasca Panen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol. 3 No. 1, Juni 2008.

Guangling J, Guangli Y, Junzeng Z, and H. Stephen E. Chemical Structures and Bioactivities of Sulfated Polysaccharides from Marine Algae. Journal/marinedrugs. 2011; 9: 196-223.

Iptek, 2012. Rumput laut/alga. http://www.iptek.net.id/ind/pd_alga/index.php? mnu=2&alga=coklat&id=17.

Kelman D, Posner EK, Karla J. McDermid , Nicole K. Tabandera , Patrick R. Wright  and Anthony D. Wright. Antioxidant Activity of Hawaiian Marine Algae. Mar. Drugs 2012, 10, 403-416

Kim J and Park EJ. Cytotoxic Anticancer Candidates from Natural Resources. Curr. Med. Chem. – Anti-Cancer Agents, 2002; 2: 485-537

Kusmanto, D. 2011. Fucoidan Senyawa Anti Kanker Pada Rumput Laut. http://rumputlautindonesia.blogspot.com/2011/02/fucoidan-senyawa-anti-kanker-pada.html. diakses tanggal 04 April 2012.

Limantara, L dan Heriyanto. 2010. Studi Komposisi Pigmen dan Kandungan Fukosantin Rumput Laut Cokelat dari Perairan Madura dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Jurnal Ilmu KelautanMaret 2010. vol. 15 (1) 23 – 32

Limantara, L dan Heriyanto. 2011. Optimasi Proses Ekstraksi Fukosantin Rumput Laut Coklat Padina australis Hauck Menggunakan Pelarut Organik Polar. Jurnal Ilmu Kelautan. Vol. 16 (2) 86-94.

Lumongga, N. 2009. Dukungan Sosial pada Pasien Kanker, Perlukah?. USU Press. Medan.

Maeda H. Hosokawai M, Sashima T, Takahashi N, Kawada T, and Miyashita K. 2006. Fucoxanthin and its metabolite,fucoxanthinol, suppress adipocyte differentiation in 3T3-L1 cells. International Journal Of Molecular Medicine. 18: 147-152

Mediasehat.2005. Mengenal Kanker. http://www.mediasehat.com/utama07.php. diakses tanggal 03 April 2012.

Mangan, Y. 2003. Cara Bijak Menaklukkan Kanker. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.

Mangan, Y. 2009. Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.

Mclaughlin and Rogers. 1998. The Use Of Biologocal Assays To Evaluate Botanical. Drug Information Journal, Vol. 32, pp. 513–524

PDPI 2003. Kaner Paru. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia. Jakarta.

Peng J, Yuan J. P. Chou-Fei W and Jiang, H.W. 2011. Fucoxanthin, a Marine Carotenoid Present in Brown Seaweeds and Diatoms: Metabolism and Bioactivities Relevant to Human Health. Mar. Drugs 2011, 9, 1806-1828

Rachmaniar, R. 1999. Potensi Algae Coklat Di Indonesia dan Prospek Pemanfaatannya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Roger, J. B. 2000. Cancer Biology Second Edition. Pearson Education Asia. Singapore.

Sadish K. S, Kumar Y, Khan M. S. Y, Anbu J and Dc Clerc E. 2009. Antihistaminic, Anticholinergic and Antiviral Activities Of Fucosterol From Turbinaria conoides (J. Agardh) kutzing. Pharmacologyne. 1: 1104-1112.

Sarjadi. 1992. Registrasi Kanker Dalam Konteks Penanggulangan Penyakit Kanker. Fakultas Kedokteran Universitas Dipenegoro. Semarang.

Sheu, J.H., Wang, G.H., Sung, P.J., and Duh, C.Y. 1999. New cytotoxic oxygenated fucosterols from the brown alga Turbinaria conoides. J. Of. Prod. 63(2):224-227.

Siegel R, Naishadham D and Jemal A. 2012. Cancer Statistic 2012. CA: A Cancer Journal For Clinical. 62: 10-29.

Suara Merdeka, 2012. Rumput Laut Penghasil Fukosanthin. http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/24/178168/Rumput-Laut-Penghasil-Fukosanthin

Takeshi M and Takeshi Y. 2011. Simultaneous Treatment of Cancer Cells Lines with the Anticancer Drug Cisplatin and the Antioxidant Fucoxanthin. British Journal of Pharmacology and Toxicology 2(3): 127-131.

Tambunan, G. W., 1995. Diagnosis Dan Tatalaksana Sepuluh Jenis Kanker Terbanyak Di Indonesia. Jakarta: EGC.

Uripi, V. 2002. Menu untuk Penderita Kanker. Puspa Swara. Jakarta.

William, D.E andAndersen, R. S, 2006. Coral Reef to Clinical Trial: Bio Prospecting For Drugs From The Sea. Report on International Seminar and Workshop on Marine Biodiversity and Their Potential For develoving Bio-Pharmaceutical Industri in Indonesia. Research Center For Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology. Book 2. Jakarta. p. 80-92

Winarno FG. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. PT Sinar Pustaka Harapan, Jakarta.

WPI, 2010. Rumput Laut Indonesia. Direktorat Pemasaran Dalam Negri. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Yamamoto, K.; Ishikawa, C.; Katano, H.; Yasumoto, T.; Mori, N. Fucoxanthin and its deacetylated product, fucoxanthinol, induce apoptosis of primary effusion lymphomas. Cancer Lett. 2011, 300, 225–234

Zailanie K dan Purnomo H. 2011. Studi Kandungan dan Identifikasi Fukosantin Dari Tiga Jenis Rumput Laut Cokelat (Sargassum cinereum, Sargassum echinocarpum dan Sargassum filipendula) Dari Padike Talongo Sumenep Madura. Berk. Penel. Hayati Edisi Khusus: 7A (143–147).

Zaif, 2009. Phaeophyta alga coklat. http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/30/ phaeophyta-algae-coklat/. diakses tanggal 05 April 2012.

Zainuddin, E, N. 2006. Chemical and biological investigations of selected cyanobacteria (Blue-Green Algae). PhD Thesis, University Greifswald.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: