Rahmatan Lil 'alamiiin

“MERARIK 12-12-12”

“MERARIK 12-12-12”
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S Ar Ruum, 30:21)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)”. (Q.S Ar Ra’d, 13:38).

“Peristiwa perkawinan itu sebagai tiga buah rentetan perbuatan-perbuatan magis yang bertujuan menjamin ketenangan (koelte), kebahagiaan (welfaart) dan kesuburan (vruchtbaarheid).” Prof. Hazairin.(Sasih, 2007).

Terjagalah dari segala maksiat
Dari segala zina
Dan nafsu dunia yang sesat

Disatukan dalam karunia yang suci
Bersama jiwa – jiwa yang selalu haus akan ibadah dan penuh harga diri
Ini bukan cerita cinderella bukan juga patah arang cinta buta siti nurbaya

Tak dapat diukur, tapi bersama Allah semua pasti akan teratur
Dinyatakan dalam ketulusan dari mutiara ketakwaan yang sangat mendalam
Bersemi dari pupuk akhlak yang hebat
Berbuah dalam kesabaran dan ketekunan yang lebat

Tidak, ini tidak akan dimengerti oleh hati yang penuh dengan dusta
Yang buta oleh warna warni dunia yang fana

Ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan keteladanan bagi generasi berikutnya
Keteladanan abadi dalam harum kesturi dan buah ibadah
Dan menjadi manis seperti kurma di awal rembulan yang indah
Untuk selalu berjalan dalam kesetiaan dan harapan
Dan hanya mau mencium atas dasar kemurnian kita berkata cinta

Karena bukan apa, siapa dan bagaimana
Tapi luruskanlah dalam wangi syurga
Karena apa sebenarnya kita berani berkata cinta

Inilah cinta sejati
Cinta yang tak perlu kau tunggu
Tapi dia tumbuh bersama doa malam yang teduh

Tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu
Petunjuk yang selalu datang dari ruang para malaikat
Yang sanggup melihat tak kenal pekat

Tak lekang oleh zaman yang kan terus melaju
Takkan habis oleh waktu
Karena kecantikannya tersimpan dihati
Dalam pesona yang selalu menjaga jiwa

Yang menjadikan dunia menjadi syurga sebelum syurga sebenarnya
Yang membuat hidup lebih hidup dari kehidupan sebenarnya

Seperti sungai yang mengalir
Bening airnya pun selalu artikan keseimbangan syair
Yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan
Untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan
Dan kelebihan sebagai kekuatan

Lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan
Dalam kesetiaan ruang keshalihan dan kasih sayang
Bagi sejarah penutup halaman terakhir perjalanan para ksatria sastra jihad dan dakwah

Tercatat dalam untaian rahmat berakhir dalam catatan terakhir yang mulia
Digariskan hanya oleh ketetapan allah subhanahu wata’ala

Hingga rambut kita memutih…
Hingga ajal kan datang menjemput diri ini…

CIMG3784

Asal-usul Merarik
Membicarakan pernikahan Sasak, tidak akan lepas dari sepenggal kata berjudul merarik, yakni melarikan anak gadis untuk dijadikan istri (Adnan, 2004). Merarik sebagai ritual awal untuk memulai perkawinan merupakan fenomena yang sangat unik yang mungkin hanya dapat ditemui di masyarakat Sasak, Lombok Nusa Tenggara Barat. Fenomena ini sebagai sebuah puncak etis perwujudan kearifan lokal masyarakat suku Sasak (Nursim, 2009). Begitu mendarah dagingnya tradisi ini dalam masyarakat Sasak, sehingga apabila ada orang yang ingin mengetahui status pernikahan seseorang, orang tersebut cukup bertanya apakah yang bersangkutan telah merarik atau belum. Bartholomen (2001), menerangkan bahwa merarik merupakan hal yang sangat penting dalam perkawinan Sasak. Bahkan, meminta anak perempuan secara langsung kepada ayahnya untuk dinikahi tidak ada bedanya dengan meminta seekor ayam.
“Saya tidak ingin menikah dengan seorang laki-laki yang tidak berani mengambil resiko melarikan diri dengan saya. Dia akan kelihatan lemah, baik di mata saya maupun orang lain dari desa saya bila dia meminta izin kepada ayah saya. Sebenarnya ayah saya akan melemparnya ke luar rumah bila dia mencoba melakukan hal itu” (Bartholomen, 2001).
Pada tahun 1970-an merarik secara kultural dilakukan oleh sekitar 95% masyarakat Sasak untuk memulai perkawinan Ecklund (1977) dalam Anonim (2012a). Tradisi merarik bagi masyarakat Sasak seringkali dianggap sebagai kawin lari, hal ini terjadi karena sudah merupakan suatu kebiasaan yang sudah ditetapkan dan diatur di dalam hukum adat Suku Sasak (Liana, 2006). Tradisi merarik menjadi cara paling terhormat bagi laki-laki Sasak untuk menikahi seorang perempuan. Alasannya, merarik memberikan kesempatan kepada para pemuda, yang hendak beristri, untuk menunjukkan kejantanannya (Bartholomen, 2001). Sifat jantan merupakan simbolisasi sosok suami yang bertanggung jawab dalam segala kondisi terhadap keberlangsungan keluarganya. Orang laki-laki yang melakukan merarik telah membuktikan dirinya sebagai seorang pemberani. Hal ini karena pelaku merarik, sebagaimana diatur dalam ketentuan adat Sasak, harus menghadapi bahaya dibunuh apabila tertangkap. Sedangkan bagi mereka yang tidak melakukan merarik dianggap lemah dan tidak pantas menjadi seorang suami.
Seiring perkembangan zaman, jumlah orang yang melakukan merarik semakin sedikit (Bartholomen, 2001). Bahkan, merarik yang dilakukan terkadang hanya bersifat simbolis belaka, yaitu dengan ”sepengetahuan” kedua orang tua si gadis. Terlepas dari semakin tidak populernya merarik sebagai ritual awal perkawinan Sasak, ritual ini telah melahirkan sebuah perkawinan yang khas masyarakat Sasak. Hukum Perkawinan Dalam Masyarakat Adat Sasak Lombok Liana (2006), menjelaskan bahwa masyarakat Adat Sasak dalam melaksanakan perkawinan mengenal 5 cara yaitu:
1. Memadik (melamar)
Pihak keluarga calon menpelai laki-laki, mendatangi keluarga mempelai perempuan untuk meminta agar anak mereka diterima dapat menikah dengan anak perempuan dari pihak keluarga perempuan.
2. Mesopok/betempuh pisak yaitu :
Perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masih mempunyai hubungan keluarga yang dekat (bermisan) yaitu diantara orang tua laki-laki dan perempuan bersaudara perkawinan ini di dasarkan pada keinginan kedua orang tua mempelai.
3. Merarik : lari bersama untuk kawin
Pengertian lari disini adalah berusaha mengeluarkan si perempuan dari kekuasaan orang tuanya untuk selanjutnya masuk dalam kekuasaan keluarga laki-laki (suami)
4. Memaksa/memagah : memaksa si gadis untuk kawin atas kehendak laki-laki.
5. Kawin gantung : perkawinan yang di kehendaki oleh orang tua kedua belah pihak sedari kedua calon mempelai masih kecil.

Penyebab Terjadinya Merarik Pada Masyarakat Suku Sasak di Lombok.
Merarik merupakan cara pelaksanaan perkawinan yang sangat dominan di laksanakan oleh masyarakat Suku Sasak Lombok, sehingga dalam perkembangannya kata merarik dapat diartikan pula dengan kawin. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya merarik menurut Liana (2006) adalah:
1. Cara pelaksanaannya, sejak perkenalan antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan sampai dengan penyelesaian pelaksanaan perkawinan telah di atur termasuk sanksi-sanksi apabila ketentuan tersebut dilanggar.
2. Mengurangi terjadinya konflik diantara para pihak atau kerabat yang terlibat langsung dalam pelaksanaan perkawinan akibat perbedaan status sosial, status ekonomi.
3. Dapat menghindari perpecahan dalam keluarga akibat pilihan untuk memilih laki-laki sebagai calon suami yang bertentangan dengan keinginan keluarga atau orang tua.
4. Si perempuan bebas memilih siapa calon suami yang di inginkannya di antara laki-laki yang mengingininya karena mereka di dahului dengan acara yang disebut midang dimana laki-laki diperkenalkan untuk datang berkunjung kerumah si gadis pada malam hari, yang sebelumnya telah didahului oleh perkenalan antara si perempuan dengan laki-laki di tempattempat tertentu misalnya pada saat menanam padi, panen atau keramaian atas acara adat lainnya.
Pelaksanaan Merarik Menurut Hukum Adat Sasak
Sebelum pelaksanaan merarik, antara perempuan dengan si laki-laki telah didahului dengan perkenalan yang dilanjutkan dengan acara yang disebut midang atau lalo midang yaitu kunjungan pihak laki-laki kerumah si perempuan. Acara midang diatur dan diawasi dengan ketentuan adat yang sangat ketat antara lain :
 Hanya dapat dilakukan pada malam hari
 Waktunya sesudah waktu sholat magrib sampai ± Jam 20. 00. Wita
 Tidak boleh melarang laki-laki lain untuk midang pada perempuan yang sama.
 Orang tua sama sekali tidak dapat ikut campur dalam pembicaraan mereka selama midang.
Pada saat midang inilah si perempuan bebas memilih siapa diantara si laki-laki yang midang untuk menjadi calon suami yang diinginkannya. Setelah si perempuan menentukan pilihan yang disebut “pade teruk “ atau “pade mele” maka mereka merencanakan dan membuat janji kapan mereka akan merarik atau lari bersama. Merarik berasal dari kata Sasak “Berari” yang berarti berlari. Kata merarik mengandung dua arti, pertama arti yang sebenarnya adalah lari dan yang kedua adalah keseluruhan dari pelaksanaan perkawinan menurut adat Sasak. Pengertian lari berarti cara (tekhnik), sehubungan dengan ini berarti bahwa tindakan dari melarikan atau membebaskan si perempuan dari ikatan orang tuanya serta kelurganya. Melarikan atau memaling dimaksudkan sebagai permulaan dari tindakan pelaksanaan merarik. Memaling dilaksanakan pada waktu malam antara waktu maghrib dan isya, tatkala penduduk sedang pergi ke mesjid atau sedang makan malam. Waktu tersebut digunakan agar tidak terlalu kentara seandainya seorang wanita berjalan sendirian diluar halaman rumahnya, demikian pula pihak keluarga tidak curiga seandainya anak perempuannya keluar rumah dengan berbagai alasan. Pada malam itu juga, si laki-laki membawa calon istrinya kerumah keluarganya yang biasanya berada diluar kampung si laki-laki. Di tempat itulah untuk beberapa hari si perempuan berada dalam paseboan atau persembunyian, sedangkan si laki-laki berada dirumah yang lain, atau di tempat yang sama tetapi dalam kamar yang berbeda.
Sejak si perempuan berada diluar rumah orang tuanya. Apabila sehari atau dua hari anak perempuannya tidak kembali, pihak orang tua dan keluarganya sudah memastikan bahwa anaknya telah dibawa lari oleh seorang laki-laki untuk dikawininya. Perempuan tersebut ditempat persembunyiannya menurut adat tidak diperkenankan menampakkan dirinya dimuka masyarakat apalagi keluarganya. Jika hal itu dilakukan, pihak keluarga menganggap bahwa si laki-laki menghinanya karena baik pemberitahuan maupun segala pelaksanaan adat yang dituntut bagi lelaki tersebut belum dilakukan sesuai dengan ketentuan adat. Sedangkan secara ilustrasi proses merarik menurut (Budiwanti, 2000) adalah sebagai berikut:
• Sebelum merarik dilaksanakan, pasangan yang hendak melarikan diri mengadakan pertemuan terlebih dahulu untuk menentukan kapan waktu (biasanya malam hari) yang paling baik (secara keamanan) untuk melarikan diri menuju tempat persembunyian.
• Pada malam hari yang telah ditentukan, calon mempelai perempuan menyelinap keluar dari rumah orang tuanya menuju tempat yang telah ditentukan oleh kedua calon mempelai tersebut. Untuk kasus merarik yang telah direncanakan, biasanya calon mempelai pria menunggu di suatu tempat dengan ditemani oleh kaum kerabat atau teman-temannya. Cara ini digunakan untuk meminimalisir bahaya jika pelarian diri diketahui oleh komunitas si calon mempelai perempuan. Selain cara tersebut, ada dua cara lagi yang dapat digunakan, yaitu: pihak laki-laki menyuruh saudaranya atau pihak yang dipercaya untuk mengajak si gadis keluar dari rumahnya. Calon pengantin pria menunggu calon pengantin perempuan di tempat yang telah ditentukan. Cara lain yang juga terkadang digunakan adalah memanggil seorang gadis dengan menggunakan kekuatan magis. Oleh karena dipanggil dengan kekuatan magis, maka calon pengantin perempuan “tidak sadar” jika ia telah melarikan diri. Cara yang terakhir ini digunakan apabila calon mempelai perempuan “kurang suka” kepada calon mempelai laki-laki. Pelarian diri dianggap berhasil jika kedua calon mempelai telah berhasil bersembunyi di suatu tempat rahasia (penyebuan), biasanya di salah satu rumah kerabat calon mempelai laki-laki.
• Mengetahui anak gadisnya semalaman tidak pulang, orang tua si gadis mengirim pejatiklian dusun di mana mereka tinggal. (kurir) untuk melaporkan hilangnya si anak gadis kepada kepala dusun.
• Selanjutnya kepala dusun mengabarkan hilangnya si anak gadis ke seluruh penjuru desa. Tujuannya adalah agar orang yang mengetahui

keberadaan si gadis segera memberi tahu kepada klian dusun atau orang tua si gadis.
• Keesokan harinya, pihak calon mempelai laki-laki mengabarkan perihal penculikan tersebut kepada klian dusun tempat calon mempelai

laki-laki tinggal.
• Selanjutnya, klian dusun tempat calon mempelai laki-laki tinggal mengabarkan kepada klian dusun tempat calon mempelai perempuan

tinggal.
• Kemudian kedua klian dusun dengan disertai kerabat laki-laki pengantin pria menemui orang tua si gadis dan memberitahukan mereka

(nyelabar) bahwa anak gadis mereka merarik dan berada di tempat yang aman. Waktu toleransi untuk nyelabar adalah tiga hari. Lebih dari

waktu tersebut, pihak pengantin laki-laki harus membayar ajikrama terlambat salabar yang besarnya ditentukan oleh orang tua si gadis dan

dibayarkan pada saat upacara sorong serah.
Pemberitahuan adanya pelarian seorang anak gadis kepada orang tuanya merupakan terbukanya pintu menuju perkawinan sepasang laki-laki dan perempuan tersebut.
Tahapan-tahapan dalam Proses Merarik
Setelah si laki-laki melarikan anak gadis orang untuk dijadikan istrinya, maka pihak laki-laki harus melakukan beberapa tahapan proses agar perkawinannya dianggap sah secara hukum adat Sasak. Adapun tahapan tersebut adalah:
1. Sejati/Besejati
Sejati atau besejati adalah tindakan pemberitahuan yang harus segera dilakukan oleh pihak laki-laki kepada keliang kampung bahwa telah terjadi perkawinan di lingkungannya. Selanjutnya informasi akan disampaikan kepada pihak keluarga perempuan melalui perantara secepatnya. Perantara ini akan memberikan informasi kepada keluarga calon pengantin perempuan tentang kebenaran terjadinya merarik tersebut dan siapa yang telah membawa lari, kapan dan di mana calon pengantin perempuan dilarikan. Peristiwa inilah yang dinamakan sejati atau besejati (Kaharuddin, 2007). Pesan perantara ini kemudian disampaikan oleh keliang kampung secara langsung kepada orang tua atau keluarga pihak perempuan, kemudian di musyawarahkan berbagai masalah menyangkut tatakrama perkawinan setempat, termasuk berbagai pembayaran yang dibebankan kepada laki-laki. Semua ini menjadi catatan untuk kemudian disampaikan kepada utusan selabar.
Sejati ini biasa dilakukan oleh dua orang utusan pihak laki-laki untuk menghadap kepada keliang kampung. Dalam besejati, dua orang utusan ini harus berbusana/berpakaian adat lengkap dan nyelep (membawa keris) dengan membawa ceraken. Tidak diperbolehkan untuk kedua orang utusan ini makan atau minum dirumah kepala dusun ketika acara besejati dilaksanakan.
2. Nyelabar/Selabar
Setelah selesai sejati, maka proses selanjutnya adalah selabar yaitu meminta kesediaan orang tua gadis untuk memberikan persetujuan dan perwalian terhadap puterinya. Dalam selabar ini pula akan disepakati pembayaran adat yang disebut dengan ajikrama, yaitu sejumlah pembayaran yang telah ditetapkan oleh adat sebagai simbol (harga) dan status sosial dari pasangan calon pengantin dan setiap keturunan yang akan mereka lahirkan (Kaharuddin, 2007). Ajikrama ini harus dipenuhi oleh keluarga laki-laki yang bersangkutan, sebagai upaya untuk dapat melangsungkan akad nikah. Selain itu, dalam selabar juga akan ditentukan kapan acara bait wali (nikahang), sorong serah dan nyongkolan akan dilaksanakan.
3. Bait wali (Nikahang)
Nikahang adalah memberikan status hukum berdasarkan agama atas hubungan kedua mempelai, sehingga mereka dapat bergaul dan berhubungan secara sah sebagai suami isteri. Tanpa adanya proses nikahang merarik dipandang tidak sah (Kaharuddin, 2007). Pada umumnya proses nikahang diselenggarakan di rumah keluarga pihak laki-laki. Sebelum proses nikahang dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan proses bait wali oleh pihak laki-laki. Proses bait wali ini adalah sebuah keharusan yang dilakukan oleh pihak laki-laki, yakni menjemput wali nikah bersama dengan kepala lingkungan, penghulu, tokoh adat beserta keluarga dari pihak gadis untuk dibawa ke rumah pihak laki-laki.
CIMG5966 (FILEminimizer)
Prosesi Nikahang

4. Upacara Sorong Serah
Sorong serah atau pembayaran ajikrama kepada keluarga mempelai wanita merupakan tahapan paling penting, karena menentukan sahnya perkawinan Sasak baik secara sosial maupun adat. Secara garis besar, prosesi sorong serah dapat diilustrasikan sebagai berikut:
 Pada hari yang telah ditentukan untuk pelaksanaan sorong serah, pihak laki-laki dengan membawa segala perlengkapan (aji krama) datang kerumah pihak perempuan.
 Dengan berpakaian adat lengkap dan membawa segala kelengkapan aji krama, utusan (penyerah) yang dipimpin oleh seorang pembayun masuk ke areal atau tempat pelaksanaan sorong serah. Sebelum memulai pelaksanaan sorong serah, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh utusan dari pihak-laki-laki. Tahapan ini disebut dengan Nyolo, yakni pelaporan dari pihak penyerah kepada pihak perempuan bahwa mereka telah tiba dan siap untuk melaksanakan proses sorong serah. Dalam proses ini pula pihak penyerah akan menanyakan kepada pihak perempuan apakah sudah siap atau belum melaksanakan prosesi sorong serah. Kegiatan nyolo biasa dilakukan sebanyak dua sampai tiga kali oleh pembayun penyerah disertai minimal dua atau empat orang pengikutnya. Dialog dibawah ini sedikit menggambarkan prosesi nyolo antara pembayun penyerah dengan pembayun penampi (pihak pengantin perempuan):
Ass..wr..wb…
Singgih sewauh dewek titiang puniki hangngangsung salam seagame sane wauh tinujon ring wong muslimin lan wong muslimat sane melinggih, melungguh ring penantaran jembar puniki, purun malih dewek titiang puniki hangangsung salam panembrama ring paseban datu, raden, menak, buling, perwangse, triwangse, wangse same para kiyai lebe, penghulu pandite , hatib bilal marbot, sami dane haji para haji, para santri santri kabeh permance-mance negare, melinggih melugguh ring penayuban agung puniki, sewireh onteng pribadi titiang puniki jage nede nurgahe make miwah kang nyarengin titiang puniki, senamian jage titang puniki ngelungsur panurgahe, moga mogi ketampi mekadi atur dewek titiang puniki sane wauh,…………………………………..… dawek ………………………

Kemudian dijawab oleh pembayun penampi sebagai berikut :

Singgih mekadi pengartike pengartike jero pisolo sane wauh kodal, kalintang patut,kalintang becik tanane engge’ne sisip,tanane engge’ne siwah, sedulur mekadi pemargian adat sasak kang utame ( pinujul ) ……… panurgrahe jero pisolo sane wauh kodal,sampun ketampi,make miwah kang nyarengin rage hingandike ring kiwe ring tengen ,muah ring pungkur same,sampun durus,sampun ketampi,……. Dawek …….. durusan kodal pengandike .
Kemudian di jawab kembali oleh Pisolo sebagai berikut :

Alhamdulillah yen sampun ketampi salam panembrame utawi salam adat puniki sane wauh purun malih dewek titiang puniki matur baken wanudya dewek titiang puniki parek pedek ring arse dane pengarseang wecane minangke kebaos pembayun penampi,make miwah kangarepin dewek titiang puniki ring kiwe kalagening tengen,make ring ragehingandike same titiang puniki tendikayang antuk jero pembayun titiang maksih ring jabe jage nunasan ring pelinggih dane pengarseang wecane utawi sang handowe karye puniki sampun napi ulem uleman,pesilaan make miwah undangan ragehingandike sampun rauh utawi durung rauh,sampun napak utawi durung napak,saneh doh saneh pedek,yen sampun rauh utawi sampun semapte,nenten wenten dados pengantos malih mangde gelis titiang puniki matur ring jero pembayun titiang maksih kari ring jabe bade same semengeranjing pedek ringarse ragehingandike same,hambakte harte brane pacang katur ring ragahingandike. Nunasan pisan…………………….. …………………………………………….dawek…………………

Dijawab oleh pembayun penampi sebagai berikut :

Singgih…. Mekadi pengandike pengandike jero pisolo sane wauh kodal,ulem uleman,pesilkaan make miwah undangan sang handowe karye puniki sampun semapte nenten wenten dados pengantos malih saneh doh saneh pedek sampun napak kangantos kerauhan jero pembayun ragehingandike,minangkedados tetami agung,dawegan pisan rage hingandike medal hanaring penantaran puniki, den age sarengan jero pembayun rage hingandike,same same ngeranjing ring pegenahan penayuban agung puniki.

Kemudian dijawab kembali oleh pisolo sebagai berikut :

Yen sampun ketampi atur dewek titiang puniki sane wauh mangdane nenten dados kesisipan dewek titiang puniki, nede agung sinampure sepisan jangkeping sekati, titiang nede pengandike pamit sareng kiwe tengen makemiwah ring untat titiang puniki, senemian jage titiang puniki ngelungsur pengandike pamit……….. nurgahe………………..

Kemudian dijawab oleh pembayun penampi …….. rarisan…………….

Kemudian para pisolo meninggalkan tempat duduknya kembali memberitahukan jero pembayun yang masih berada diluar, mengenai kesiapan para tamu undangan untuk menerima kehadiran pembayun penyorong, sebagaimana mestinya para pisolo meninggalkan paseban adat dengan tertib tapsile, sopan santun dan adat yang baik dengan memperhatikan posisi barisan sebagaimana posisi pada waktu datang tadi. Kemudian pembayun penyorong bersama sama dengan penyorong lainnya dengan membawa aji krame adat masuk menuju paseban adat dimaksud. Posisi serta penataan barisan sebagaimana mestinya yang teratur, namun sebelum pembayun penyorong tiba di tempat paseban adat atau setelah para pisolo bangun dari tempat duduknya, boleh juga pembayun penampi nembang egar egar serire sebagai berikut :

TEMBANG MAS KUMAMBANG ( SARIANOM )

SAMPUN LAMI TITIANG PUNIKI HANGANTOS
TETAMI AGUNG,HAMBAKTE HARTE BRANE
LESU LESAH SERIRGE HANMEMANG ATE
MULE PITUDUH ALLAH KANG KUASE
OLEMAN SAME WUS CUNAWIS
SAMPUN NAPAK RING PASEBAN ADAT
DATAN PEGAT RARASAN PUNIKI
SQARWI NINGAL KERAUHAN TETAMI

Dadi malah katos tetami tetami agung alon alon lumaris nuju ( nujon ) wates paseban adat puniki, patut patut kalintang patut, pantes kalintang pantes, sarwi hanatah punang barisan hanganggoan busana mance warne tur malih kang nyarengin lumiring kalintang akeh luir pendah kalih kekisik pinggiring samudre. Lumaris nuju wantening paseban adat malah sami linggih ,lenggah lungguh ring jawi paseban adat.
 Setelah prosesi nyolo selesai, maka barulah prosesi adat sorong serah dimulai. Dalam prosesi sorong serah ini, pembayun penyerah dan seluruh anggotanya masuk keareal sorong serah dengan membawa seluruh kelengkapan aji krama. Para penyerah kemudian duduk secara berbaris rapi yang dipimpin oleh pembayun pada barisan paling depan.
 Ketika semua sudah siap, pembayun penyerah memulai dengan mengutarakan maksud kedatangannya beserta seluruh anggotanya. Disini terjadi dialog antara pembayun penyerah dan pembayun penampi. Dalam dialog ini dibahas segala sesuatu yang berkaitan dengan aji krama yang dibawa oleh penyerah dan denda-denda yang harus dibayarkan apabila dalam proses merarik pengantin laki-laki melakukan pelanggaran.
 Dialog kemudian diakhiri dengan memeriksa segala kelengkapan aji krama oleh pihak perempuan. Apabila segala kelengkapan aji krama dianggap lengkap dan sesuai dengan apa yang telah disepakati sebelumnya pada waktu Selabar, pihak perempuan kemudian memberikan sejumlah uang”Pemegat tali jinah” kepada pembayun penyerah untuk melakukan megat tali jinah. Selain itu dipihak perempuan kemudian membagi-bagian uang kepada seluruh hadirin (pesilaan nanggep) yang ada ditempat itu, uang yang dibagikan berasal dari aji krama yang dibawa oleh pihak laki-laki.
 Megat tali jinah merupakan puncak dari prosesi sorong serah, yakni sebuah proses dimana pembayun penyerah dengan suara yang lantang dan dengan membawa uang ditangan kanannya (kepeng pemegat) mengumumkan bahwa pada hari, tanggal, bulan dan tahun diadakannya sorong serah itu, pasangan pengantin laki-laki dan perempuan telah dianggap sah sebagai suami istri dalam adat sasak. Setelah megat tali jinah dilakukan, selanjutnya Kliang kampung dari pihak perempuan mengumumkan jumlah (harga) aji krama pengantin perempuan kepada seluruh warga masyarakatnya dengan mengangkat tangan sambil membawa kalung sebagai lambang aji krama.
 Pengumuman jumlah aji krama pengantin perempuan oleh Kliang kampungnya merupakan tahap akhir dalam prosesi sorong serah. Selanjutnya pihak penyerah diwakili oleh pembayun meminta izin kepada pihak perempuan untuk pulang.
CIMG7549 (FILEminimizer)
Para penyerah membawa kelengkapan Aji Krame

wowm
Prosesi Sorong Serah

Denda
Menurut Budiwati (2000), ada beberapa macam denda yang kemungkinan harus dibayar oleh pihak laki-laki apabila selama proses merarik melakukan berbagai macam kesalahan atau tindakan yang dianggap melanggar aturan adat, denda tersebut antara lain:
 pertama, ngampah-ngampah ilen pati. Denda ini dijatuhkan karena orang tua mempelai wanita merasa bahwa sebelum, selama, dan sesudah melarikan si gadis, mempelai pria telah mempermalukan anak mereka, misalnya sebelum acara merarik si pria mengunjungi si gadis terlebih dahulu. Padahal menurut adat Sasak, seorang pemuda tidak boleh menyambangi atau mengunjungi gadis yang hendak dia curi.
 Kedua, terlambat salabar, yaitu denda yang harus dibayar oleh mempelai laki-laki apabila orangtua mempelai perempuan menganggap keluarga mempelai pria terlambat mengabarkan penculikan anak gadis mereka. Menurut adat Sasak, waktu toleransi untuk memberikan kabar penculikan adalah tiga hari. Lebih dari tiga hari, maka pihak pengantin laki-laki harus membayar denda terlambat salabar. Bahkan, adakalanya juga harus membayar ngampah-ngampah ilen pati karena telah membikin malu keluarga pengantin perempuan.
 Ketiga, dosan jeruman. Denda ini harus dibayarkan oleh mempelai laki-laki karena dia menggunakan perantara dalam melakukan pelarian diri anak gadis orang.
 Keempat, lain keliang. Denda yang dibayarkan karena mempelai pria berasal dari tempat yang berbeda, misalnya si gadis berasal dari Sasak, sedangkan mempelai prianya berasal dari Jawa.
 Kelima, ajin gubug. Denda ini dibayarkan atas permintaan komunitas tempat mempelai wanita tinggal.
 Keenam, turunan bangsa. Denda ini dibebankan kepada pengantin pria yang mempunyai status sosial lebih rendah daripada pengantin perempuan. Oleh karena perkawinan model ini menyebabkan status sosial perempuan menjadi turun, maka pembayaran turunan bangsaturunan bangsa yang harus dibayarkan oleh pihak mempelai laki-laki. Dan
 ketujuh, lain-lain. Ajikrama ini dibayarkan untuk pengembangan sarana publik, seperti pembangunan dusun, madrasah, masjid, dan lain sebagainya.
5. Nyongkol
Nyongkol merupakan bagian penting dari pernikahan adat Sasak (Anonim, 2012b). Nyongkol merupakan salah satu tahapan akhir dalam prosesi merarik yakni mengantarkan pengantin laki-laki dan perempuan kerumah orang tua pengantin perempuan secara beramai-ramai. Kedua pasang pengantin di hias sedemikian rupa bak raja dan ratu yang akan melangkah kesinggasana dengan diiringi oleh keluarga, kerabat, teman dan tetangga dari pihak lelaki dan disambut oleh keluarga pihak perempuan. Hal ini dilakukan biasanya dengan berjalan kaki di jalan raya dari rumah penganten lelaki ke rumah penganten perempuan atau dari jarak tertentu ke finish tertentu. Nyongkol ini memberikan makna kepada seluruh masyarakat yang melihat bahwa antara pengantin laki-laki dan perempuan telah merarik (sah sebagai suami istri) sehingga menjauhkan keduanya dari anggapan-anggapan atau gangguan dari luar dimasa-masa yang akan datang.
CIMG7592 (FILEminimizer)
Prosesi Nyongkolan

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi warga masyarakat Sasak Lombok. Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran penulis harapkan dari segenap pembaca untuk bisa memperbaikinya agar menjadi sebuah tulisan yang lebih baik. Mohon maaf tak lupa penulis ucapkan apabila terdapat kesalahan-kesalahan kata ataupun lainnya.
Wassalam,

Karang Genteng, 12-12-12

Daftar Pustaka
Adnan, 2004. Pergeseran Nilai-Nilai Adat Marari Pada Masyarakat Suku Sasak Lombok (Studi Pada Kecamatan Ampenan Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tesis. Program Pascasarjana Magister Kenotariatan Universitas Dipenegoro. Semarang. File pdf.

Anonim, 2012a. http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2227/merarikupacara-pernikahan-khas-sasak-nusa-tenggara-barat. (diakses pada tanggal 12/12/12)

Anonim, 2012b. http://lombokbaratkab.go.id/pemprov-ntb-segera-godok-raperda-budaya-nyongkol.html/. (diakses pada tanggal 12/12/12)

Bartholomew J R, 2001. Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak, Yogyakarta, Tiara Wacana.
Budiwanti E, 2000. Islam Sasak, Yogyakarta, LKIS.
Ecklund J, 1977. Marriage, Seaworm and Song: Ritualized Responses to Cultural Change in Sasak Life, USA, Cornel University Ph.D Thesis.

Khaeruddin, 2007. Perkawinan Adat Merariq (kawin Lari) Pada Masyarakat Sasak Dalam Perspektif Hukum Perkawinan Islam Di Nusa Tenggara Barat. Jurnal MlMBAR HUKUM Volume 19, Nomor 2, Juni 2007.

Liana R, 2006. Perkawinan Merarik Menurut Hukum Adat Suku Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat. Tesis. Program Pascasarjana Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro. Semarang. File pdf.

Nursim, 2009. Kajian Sosiologi Hukum Terhadap Uang Wali Pada Masyarakat Muslim Suku Sasak (Studi Kasus Di Desa Dangiang). Skripsi. Fakultas Syari’ah Universitas Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. File pdf

Sasih D N, 2007. STUDI KOMPARATIF TRADISI PISUKE DAN FIQIH MUNAKAHAT (Studi di Masyarakat Pancordao, Desa Aik Dareq Kecamatan Batukliang Lombok Tengah). Skripsi. Fakultas Syari’ah Universitas Negeri (UIN) Malang. File pdf.

http://www.orangtua.org/2012/03/24/ayat-ayat-al-quran-tentang-pernikahan-1/(diakses pada tanggal 12/12/12)

http://www.ukhtina.multiply.com/journal/item/53 /(diakses pada tanggal 12/12/12)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: